HITSTUNGKAL.COM – Kondisi masyarakat Indonesia saat ini sudah diprediksi sebagaimana bahwa suatu saat nanti perempuan akan mengambil alih semua peran dalam berbagai sektor kehidupan. Perempuan saat ini benar-benar telah memasuki ranah publik sebagai bentuk aktualisasi diri untuk turut mewujudkan pembangunan nasional maupun daerah yang sebelumnya bergantung pada laki-laki. namun kini peran antara laki-laki dan perempuan sama-sama berjuang untuk menciptakan keberhasilan dalam pembangunan Indonesia.

Peran perempuan dalam demokrasi dan politik lokal di Indonesia terus mengalami peningkatan signifikan dalam satu dekade terakhir. sebut saja Serly Laos di Maluku Utara , Khofifah IF di jawa timur, bunda Eva dilampung, Keterlibatan perempuan kini semakin terlihat di tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten/kota, hal ini menjadi indikator penting bahwa demokrasi Indonesia bergerak ke arah yang lebih inklusif, setara, dan berkeadilan. Tren positif ini menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya objek pembangunan, tetapi juga aktor strategis dalam menentukan arah kebijakan publik.

Peningkatan tersebut tidak lepas dari kebijakan afirmatif pemerintah, seperti aturan 30 persen keterwakilan perempuan dalam kepengurusan partai politik dan daftar calon legislatif. Kebijakan ini membuka ruang lebih luas bagi perempuan untuk hadir sebagai pengambil keputusan dan pemimpin lokal yang berpengaruh. Di berbagai wilayah, perempuan kini menempati posisi penting seperti anggota DPRD, kepala OPD, penyelenggara pemilu, kepala desa, hingga tokoh masyarakat yang aktif dalam proses advokasi dan pembangunan sosial.

Di Provinsi Jambi sendiri baru dua wilayah yang pernah dipimpin oleh perempuan, dulu pernah kabupaten muaro Jambi dan saat ini adalah kabupaten Tanjung Jabung Timur. Salah satu Aktivis Sosial kerakyatan Christian Napitupulu mengatakan kedepannya Kabupaten Tanjung Jabung Barat sudah layak dipimpin oleh Perempuan, karena beberapa Pekerjaan rumah yang harus dipikirkan kedepannya di Kabupaten Tanjung Jabung Barat itu adalah permasalah sosial kerakyatan, Ia mengatakan dengan jumlah PAD Tanjung Jabung Barat yang sangat besar , saat ini belum mampu menyentuh permasalahan sosial sampai ketitik terendahnya.

Terbukti dari data BPS Persentase kemiskinan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat berada pada kisaran 9,54% hingga 9,67% dari total penduduk atau setara 33 ribu jiwa sementara tingkat stunting diangka 6,65%, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Tanjung Jabung Barat tercatat sebesar 3,12%. “ Perempuan sendiri memiliki perspektif yang lebih detail dalam isu pendidikan, kesehatan, perlindungan anak, dan pelayanan publik. ketika mereka terlibat dalam proses kebijakan, hasilnya lebih inklusif dan berdampak langsung pada masyarakat,” Kehadiran perempuan terbukti membawa gaya kepemimpinan yang lebih transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kebutuhan warga.

Namun, tantangan masih tetap ada. Budaya patriarki serta minimnya pendidikan politik masyarakat, Persepsi masyarakat terhadap kehadiran perempuan dalam ranah politik disuatu daerah sebagian besar masih berbeda, mereka memandang kepemimpinan sebagai ranah laki-laki, terutama di wilayah pedesaan. masyarakat tradisional sering kali memiliki pandangan bahwa peran perempuan lebih cocok di ranah domestik dan keluarga namun ada juga perubahan sikap, terutama di kalangan generasi muda dan kelompok masyarakat yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial. Mereka cenderung lebih menerima perempuan sebagai pemimpin dan menghargai kualitas kepemimpinan mereka, seperti kemampuan untuk mendengarkan dan mengayomi masyarakat. Pemimpin perempuan yang terlibat langsung dalam pengambilan keputusan terkait kesejahteraan masyarakat, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan mulai mendapatkan apresiasi lebih .

Tidak mungkin kedepannya Kabupaten Tanjung Jabung Barat dipimpin oleh perempuan melihat hampir 30 Tahun kepimpinan Tanjung Jabung Barat oleh Laki – laki hanya berfokus pada pembanguan fisik, namun tidak menyentuh sampai ketingkatan sosial masyarakat.(**)

LIBURAN KUY!